Skip to content

Askep pneumotoraxs

BAB II

TINJAUAN TEORI

2.1    Pengertian

Terdapat banyak pengertian dari pneumotoraks di antaranya adalah:

  • Pneumotoraks adalah pengumpulan udara didalam ruang potensial antara pleura visceral danmParietal. (Arif Mansjoer dkk, 2000).
  • Pneumotoraks juga di definisikan keluarnya udara dari paru yang cidera, ke dalam ruang pleura sering diakibatkan karena robeknya pleura. ( Suzanne C. Smeltzer, 2001).
  • Selanjutnya pneumotoraks di artikan adanya udara dalam rongga pleura akibat robeknya pleura. (Sylvia Prince,patofisiologi Konsep Klinis;800). Adapula yang mengartikan Pneumotoraks dengan adanya udara di dalam rongga pleura.
  • Pneumotoraks adalah adanya udara yang trperangkap di rongga pleura.

Dari semua pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa pneumotoraks adalah keadaan emergensi yang di sebabkan oleh akumulasi udara atau gas dalam rongga pleura sebagai akibat dari proses penyakit atau cidera.

 

2.2    Anatomi Fisiologi

Anatomi fisiologi rongga thorax :

                  Kerangka dada yang terdiri dari tulang dan tulang rawan, dibatasi  oleh :

        – Depan         : Sternum dan tulang iga.

        – Belakang     : 12 ruas tulang belakang (diskus intervertebralis).

        – Samping      : Iga-iga beserta otot-otot intercostal.

        – Bawah        : Diafragma

   – Atas     : Dasar leher.

Isi :

– Sebelah kanan dan kiri rongga toraks terisi penuh oleh paru-paru beserta pembungkus pleuranya.

– Mediatinum : ruang di dalam rongga dada antara kedua paru-paru. Isinya meliputi jantung dan pembuluh-pembuluh darah besar, oesophagus, aorta desendens, duktus torasika dan vena kava superior, saraf vagus dan frenikus serta sejumlah besar kelenjar limfe (Pearce, E.C., 1995).

2.3    Etiologi

Etiologi dari pneumotoraks menurut Darmawan & Rahayuningsih (2010 hlm 52) adalah:

  1. Valve mechanism distal dari bronkiol yang mengalami peradangan atau adanya jaringan parut. Robekan dapat pula terjadi pada bleb yang terletak subpleura.
  2. Ada kebocoran dibagian paru yang berisi udara melalui robekan atau pleura yang pecah
  3. Tekanan intrabronkial yang meningkat
  4. Peluru menembus dada dan paru
  5. Trauma
  6. Luka terbuka pada dinding dada

 

2.4    Patofisiologi

Saat inspirasi, tekanan intrapleura lebih negatif dari pada tekanan intrabronkhial, sehingga paru akan berkembang mengikuti dinding thoraks dan udara dari luar yang tekanan nol (0) akan masuk ke broncus sehingga sampai ke alveioli. Saat aspirasi, dinding dada menekan rongga dada sehingga tekanan intrapleura akan lebih tinggi dari tekanan di alveolus atau broncus, sehingga udara di tekan keluar melalui broncus. Tekanan intrabronchial meningkat apabila ada tahanan jalan napas. Tekanan intrabronchial akan lebih meningkat pada waktu batuk, bersim dan mengenjan, karena pada saat ini glotis menutup. Apabila di bagian periver dari broncus atau alveolus ada bagian yang lemah, broncus atau alveolus itu akan pecah

Pneumothoraks terjadi karena adanya robekan atau kebocoran di bagian paru yang berisi udara melalui robekan atau pecahnya pleura. Robekan ini berhubungan dengan broncus. Pelebaran alveoli dan pecahnya septa – septa alveoli kemudian membentuk suatu bula yang di sebut granulomatous fibrosis. Granulomatous fibrosis adalah salah satu penyebab sering terjadinya Pneumothoraks; karena bula tersebut berhubungan dengan obstruksi empiema. (Mutaqin, 2008, hal 136).

 

 

 

 

 

 

 

WOC

 

 

 

 

 

 

 

 

2.5    Klasifikasi

Menurut Kurniasih (2009, hlm 2339), pneumotoraks dapat terjadi secara spontan atau traumatik dan klasifikasi pneumotoraks berdasarkan penyebabnya adalah sebagai berikut:

  1. a.      Pneumotoraks Spontan

Pneumotoraks spontan adalah setiap pneumotoraks yang terjadi tiba-tiba tanpa adanya suatu penyebab (trauma ataupun iatrogenik), ada 2 jenis yaitu:

1)      Pneumotoraks spontan primer.

Pneumotoraks spontan primer (PSP) adalah suatu pneumotoraks yang terjadi tanpa ada riwayat penyakit paru yang mendasari sebelumnya, umumnya pada individu sehat, dewasa muda, tidak berhubungan dengan aktivitas fisik yang berat tetapi justru terjadi pada saat istirahat dan sampai sekarang belum diketahui penyebabnya.

 

2)   Pneumotoraks spontan sekunder.

Pneumotoraks spontan sekunder (PSS) adalah suatu pneumotoraks yang terjadi karena penyakit paru yang mendasarinya (tuberkulosis paru, PPOK, asma bronkial, pneumonia, tumor paru, dan sebagainya). Pasien PSS bilateral dengan reseksi torakoskopi dijumpai adanya metastase paru yang primernya berasal dari sarkoma jaringan lunak di luar paru.

 

  1. b.      Pneumotoraks traumatik

Pneumotoraks yang terjadi akibat suatu trauma, baik trauma penetrasi maupun bukan yang menyebabkan robeknya pleura, dinding dada maupun paru. Pneumotoraks traumatik diperkiraan 40% dari semua kasus pneumotoraks. Pneumotoraks traumatik tidak hams disertai dengan fraktur iga maupun luka penetrasi yang terbuka. Trauma tumpul atau kontusio pada dinding dada juga dapat menimbulkan pneumotoraks. Beberapa penyebab trauma penetrasi pada dinding dada adalah luka tusuk, luka tembak, akibat tusukan jarum maupun pada saat dilakukan kanulasi vena sentral. Berdasarkan kejadiannya pneumotoraks traumatik dibagi 2 jenis yaitu:

1)   Pneumotoraks traumatik bukan Iatrogenic

adalah pneumotoraks yang terjadi karena jejas kecelakaan, misalnya jejas pada dinding dada baik terbuka maupun tertututp, barotrauma.

2)   Pneumotoraks traumatik Iatrogenik

adalah pneumotoraks yang terjadi akibat komplikasi dari tindakan medis. Pneumotoraks jenis inipun masih dibedakan menjadi 2 yaitu:

a)   Pneumotoraks traumatik iatrogenik aksidental adalah pneumotoraks yang terjadi akibat tindakan medis karena kesalahan komplikasi tindakan tersebut, misalnya pada tindakan parasentesis dada, biopsi pleura, biopsi transbronkial, biopsi/aspirasi paru perkutaneus, kanulasi vena sentral, barotrauma (ventilasi mekanik).

b)   Pneumotoraks traumatik iatrogenik artifisial (deliberate), adalah pneumotoraks yang sengaja dilakukan dengan cara mengisi udara ke dalam rongga pleura melalui jarum dengan suatu alat Maxwell box. Biasanya untuk terapi tuberkulosis (sebelum era antibiotik), atau untuk menilai permukaan paru.

 

Berdasarkan jenis fistulanya pneumotoraks dapat dibagi menjadi 3 yaitu:

  1. Pneumotoraks tertutup (simple pneumotoraks)

 

Pneumotoraks tertutup yaitu suatu pneumotoraks dengan tekanan udara di rongga pleura yang sedikit lebih tinggi dibandingkan tekanan pleura pada sisi hemitoraks kontralateral tetapi tekanannya masih lebih rendah dari tekanan atmosfir. Pada jenis ini tidak didapatkan defek atau luka terbuka dari dinding dada.

 

 

 

 

 

  1. b.      Pneumotoraks terbuka (open pneumotoraks)

 

Pneumotoraks terbuka terjadi karena luka terbuka pada dinding dada sehingga pada saat inspirasi udara dapat keluar melalui luka tersebut. Pada saat inspirasi, mediasti­num dalam keadaan normal tetapi pada saat ekspirasi medi­astinum bergeser kearah sisi dinding dada yang terluka (sucking wound).

 

 

  1. c.       Tension pneumotoraks

Tension pneumotoraks terjadi karena mekanisme check valve yaitu pada saat inspirasi udara mauk ke dalam rongga pleura, tetapi pada saat ekspirasi udara dari rongga pleura tidak dapat keluar. Semakin lama tekanan udara di dalam rongga pleura akan meningkat dan melebihi tekanan atmosfir. Udara yang terkumpul dalam rongga pleura ini dapat menekan paru sehingga sering menimbulkan gagal napas. Pneumotoraks ini juga sering disebut pneumotoraks ventil.

 

2.6    Manifestasi Klinis

Berdasarkan anamnesis, gejala-gejala yang sering muncul adalah :

  1. Sesak napas, yang didapatkan pada 80-100% pasien
  2. Nyeri dada, yang didapatkan pada 75-90%
  3. Batuk-batuk, yang didapatkan pada 25-35%
  4. Tidak menunjukan gejala (silent) yang terdapat sekitar 5-10% biasanya   pada PSP (pneumotoraks spontan primer)

 

 

 

 

2.7    Komplikasi

(a)    Pneumothoraks tension: mengakibatkan kegagalan respirasi akut

(b)   Pio-pneumothoraks, hidro pneumothoraks/ hemo-pneumothoraks: henti jantung paru dan kematian sangat sering terjadi.

(c)    Emfisema subkutan dan pneumomediastinum: sebagai akibat komplikasi pneumothoraks spontan

(d)   Fistel bronkopleural

(e)    Empiema

(f)    Pneumothoraks simultan bilateral

 

2.8    Pemeriksaan Diagnostik

a.  Laborotarium

1)        GDA :  variable tergantung dari derajat paru yang dipengaruhi, gangguan mekanik pernapasan dan kemampuan mengkompensasi. PaCO2 kadang-kadang meningkat. PaO2 mungkin normal atau menurun; saturasi oksigen biasanya menurun. Analisa gas darah arteri memberikan gambaran hipoksemia.

2)        Hb  :      menurun, menunjukan kehilangan darah.

  1. b.      Diagnostik

1)      Pemeriksaan Computed Tomography (CT-Scan) diperlukan apabila pemeriksaan foto dada diagnosis belum dapat ditegakkan. Pemeriksaan ini lebih spesifik untuk membedakan antara emfisema bullosa dengan pneumotoraks, batas antara udara dengan cairan intra dan ekstrapulmonal serta untuk membedakan antara pneumotoraks spontan dengan pneumotoraks sekunder.

2)      Pemeriksaan endoskopi (torakoskopi) merupakan pemeriksaan invasive, tetapi memilki sensivitas yang ebih besar dibandingkan pemeriksaan CT-Scan.

3)      Pemeriksaan foto dada tampak garis pleura viseralis, lurus atau cembung terhadap dinding dada dan terpisah dari garis pleura parietalis. Celah antara kedua garis pleura tersebut tampak lusens karena berisi kumpulan udara dan tidak didapatkan corakan vascular pada daerah tersebut.. Sinar x dada :  menyatakan akumulasi udara/cairan pada area pleural; dapat menunjukan penyimpangan struktur mediastinal.

 

Gambar 2.1: Tension Pneumotorak

(Sumber : Stark, 2002 dalam Kurniasih, Dkk, 2009, hlm. 2342).

 

2.9    Penatalaksanaan

  1. a.    Medis

Tindakan pengobatan pneumotoraks tergantung dari luasnya pneumotoraks. Tujuan dari pneumotoraks tersebut yaitu untuk mengeluaran udara dari rongga pleura dan menurunkan kecenderungan untuk kambuh lagi. Prinsip-prinsip penanganan pneumotoraks adalah

1)   Observasi dan pemberian tambahan oksigen

Tindakan ini dilakukan apabila luas pneumotoraks <15% dari hemitoraks. Apabila fistula dari alveoli ke rongga pleura telah menutup, udara dalam rongga pleura perlahan-lahan akan direabsobsi. Laju reabsobsi diperkirakan 1,25% dari sisi pneumotoraks perhari. Laju reabsobsi tersebut akan meningkat jika diberikan tambahan oksigen.

2)   WSD (Water Seal Drainage).

Tindakan ini dilakukan seawall mungkin pada pasien pneumotoraks yang luasnya >15%. Tindakan ini bertujuan mengeluarkan udara dari rongga pleura. Tindakan ini dapat dilakukan dengan cara memasukan jarum di intercosta pada daerah apikal yaitu ICS 2-3 sedangkan pada daerah basal yaitu ICS 8-9.

 

Gambar 2.2: Water Seal drainage (WSD)

(Sumber: Netter, 1979 dalam Kurniasih, Dkk, 2009, hlm.2343)

 

3)  Torakoskopi

adalah suatu tindakan untuk melihat langsung kedalam rongga toraks dengan alat bantu torakoskop sangat efektif dalam penanganan PSP dan mencegah berulangnya kembali. Dengan prosedur ini dapat dilakukaan reseksi bulla atau bleb dan juga bisa dilakukan untuk pleurodesis.

 

  1. b.   Keperawatan

(a)      Memberikan posisi

(b)     Tirah baring

(c)      Memasang oksigen

(d)     Perawatan WSD

(e)      Memantau DrainaseMemantau Water Seal (segel air).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

ASUHAN KEPERAWATAN

3.1    Pengkajian

a)      Anamnesis

Identitas klien :

Nama          :

Umur          :

Jenis kelamin :

Agama        :

Dll

Keluhan utama meliputi sesak napas, bernapas terasa berat pada dada, dan keluhan susah untuk melakukan pernapasan

b)     Riwayat penyakit saat ini

Keluhan sesak napas sering kali datang mendadak dan semakin lama semakin berat. Nyeri dada dirasakan pada sisi yang sakit, rasa berat, tertekan, dan terasa lebih nyeri pada gerakan pernapasan. Selanjutnya dikaji apakah ada riwayat trauma yang mengenai rongga dada seperti peluru yang menembus dada dan paru, ledakan yang menyebabkan peningkatan tekanan udara dan terjadi tekanan didada yang mendadak menyebabkan tekanan didalam paru meningkat, kecelakaan lalu lintas biasanya menyebabkan trauma tumpul didada atau tusukan benda tajam langsung menembus pleura.

c)      Riwayat penyakit dahulu

Perlu ditanyakan apakah klien pernah menderita penyakit seperti TB paru dimana sering terjadi pada pneumotoraks spontan.

d)     Riwayat penyakit keluarga

Perlu ditanyakan apakah ada anggota keluarga yang menderita penyakit-penyakit yang mungkin menyebabkan pneumotoraks seperti kanker paru, asma, TB paru dan lain-lain

e)      Pengkajian psikososial

Pengkajian psikososial meliputi perasaan klien terhadap penyakitnya, bagaimana cara mengatasinya, serta bagaimana perilaku klien pada tindakan yang dilakukan terhadap dirinya.

 

 

3.2    Pemeriksaan Fisik

  1. 1.      Sistem Pernapasan :

ò        Sesak napas

ò        Nyeri, batuk-batuk.

ò        Terdapat retraksi klavikula/dada.

ò        Pengambangan paru tidak simetris.

ò        Fremitus menurun dibandingkan dengan sisi yang lain.

ò        Pada perkusi ditemukan Adanya suara sonor/hipersonor/timpani , hematotraks (redup)

ò        Pada asukultasi suara nafas menurun, bising napas yang berkurang/menghilang.

ò        Pekak dengan batas seperti garis miring/tidak jelas.

ò        Dispnea dengan aktivitas ataupun istirahat.

ò        Gerakan dada tidak sama waktu bernapas.

  1. 2.      Sistem Kardiovaskuler :

ò        Nyeri dada meningkat karena pernapasan dan batuk.

ò        Takhikardia, lemah

ò        Pucat, Hb turun /normal.

ò        Hipotensi.

  1. 3.      Sistem Persyarafan :

ò           Tidak ada kelainan.

  1. Sistem Perkemihan.

ò           Tidak ada kelainan.

  1. Sistem Pencernaan :

ò           Tidak ada kelainan.

  1. Sistem Muskuloskeletal – Integumen.

ò           Kemampuan sendi terbatas.

ò           Ada luka bekas tusukan benda tajam.

ò           Terdapat kelemahan.

ò           Kulit pucat, sianosis, berkeringat, atau adanya kripitasi sub kutan.

  1. Sistem Endokrine :

ò           Terjadi peningkatan metabolisme.

ò           Kelemahan.

  1. Sistem Sosial / Interaksi.

ò           Tidak ada hambatan.

  1. Spiritual :

ò           Ansietas, gelisah, bingung, pingsan.

 

3.3    Diagnosa Keperwatan dan Intervensi

No

Diagnosa Keperawatan

NOC

NIC

Aktifitas Keperawatan

 

1.

 

 

Gangguan Pertukaran Gas

 

Batasan Karakteristik :

 Ketidaknormalan gas darah arteri

 Ketidaknormalan pH arteri

 Ketidaknormalan bernapas (irama dan kedalaman)

 Ketidaknormalan warna kulit (pucat atau kehitaman)

 Bingung

 Sianosis

 Penurunan CO2

 Diaphoresis

 Dispnea

 

 

Kriteria Hasil :

  • Keseimbangan Elektrolit dan Asam/Basa
  • Status Pernapasan : Pertukaran Gas
  • Status Pernapasan : Ventilasi
  • Perfusi Jaringan : Pulmonal
  • Status Tanda Vital

 

 

a)  Manajemen Asam Basa

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

b) Manajemen Jalan Napas

 

a)    Aktivitas:

(a)    Memelihara jalan napas pasien

(b)   Memonitor status hemodinamik

(c)    Memonitor fasilitas ventilasi yang adekuat

(d)   Memonitor gejala gagal napas

(e)    Memonitor pola napas

(f)    Menyediakan terapi oksigen

(g)   Memonitor status neurologis

 

b)   Aktivitas:

(a) Membuka jalan napas

(b) Memposisikan pasien untuk mendapatkan ventilasi maksimal

(c) Mengeluarkan secret dengan batuk efektif atau suction

(d)Mengajarkan batuk efektif

(e) Auskultasi suara napas

(f)  Memonitor status respiratori dan oksigenasi

 

2.

Pola Napas Tidak Efektif b/d penurunan ekspansi paru (akumulasi udara), gangguan muskuloskeletal, nyeri/ansietas, proses inflamasi

 

Batasan Karakteristik :

  • Napas dalam
  • Perubahan gerakan dada
  • Mengambil posisi tiga titik
  • Bradipneu
  • Penurunan tekanan ekspirasi
  • Penurunan tekanan inspirasi
  • Penurunan ventilasi semenit
  • Penurunan kapasitas vital
  • Dispneu
  • Peningkatan diameter anterior-posterior
  • Napas cuping hidung
  • Ortopneu
  • Fase ekspirasi yang lama
  • Pernapasan pursed-lip
  • Takipneu
  • Penggunaan otot-otot bantu untuk bernapas

 

Kriteria hasil:

  • Status Pernapasan: Kepatenan Jalan Napas
  • Status Pernapasan: Ventilasi
  • Status Tanda-Tanda Vital

 

a)  Manajemen jalan nafas

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

b) Terapi Oksigen

a)    Aktifitas :

(a)    Membuka jalan napas

(b)   Memposisikan pasien untuk mendapatkan ventilasi maksimal

(c)    Mengeluarkan secret dengan batuk efektif atau suction

(d)   Mengajarkan batuk efektif

(e)    Auskultasi suara napas

(f)    Memonitor status respiratori dan oksigenasi

 

b)   Aktifitas :

(a)    Membersihkan sekresi pada mulut, hidung, dan trakea

(b)   Memelihara kepatenan jalan napas

(c)    Memberikan suplemen oksigen

(d)   Memonitor aliran oksigen

(e)    Memonitor kemampuan pasien dalam memelihara oksigen

(f)    Mengobservasi tanda terjadinya hipoventilasi

(g)   Memonitor kecemasan pasien

(h)   Mengajarkan pada pasien dan keluarga bagaimana menggunakan oksigen di rumah

 

3.

Bersihan Jalan Tidak efektif

 

Batasan Karakteristik:

   Tidak adanya batuk

   Bunyi nafas yang menguntungkan

   Perubahan nilai nafas

   Perubahan irama pernafasan

   Cyanosis

   Kesulitan bersuara

   Pengurangan bunyi nafas

   Dyspnea

   Kelebihan dahak

   Batuk yang tidak efektif

   Orthopnea

   Kurang istirahat

   Mata yang melebar

 

Kriteria hasil :

  • Status pernafasan: Jalan Napas efektif
  • Status pernafasan: Pertukaran Gas
  • Status pernafasan: Ventilasi

 

a)  Bantuan Ventilasi

 

a)    Aktifitas :

(a) Memelihara kepatenan jalan napas

(b) Memonitor efek perubahan oksigenasi

(c) Membantu bernapas dalam

(d)Mengauskultasi suara napas

(e) Mengajarkan teknik bernapas lewat mulut

(f)  Mengajarkan teknik bernapas yang baik

(g) Memonitor kelemahan otot respirasi

 

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Pneumotoraks merupakan keadaan emergensi yang disebabkan oleh akumulasi udara dalam rongga pleura, sebagai akibat dari proses penyakit atau cedera.

Penyebab:

  • Spontan Terjadi secara spontan tanpa didahului kecelakaan atau trauma. Pneumotoraks spontan dapat diklasifikasikan menjadi Pneumotoraks Spontan Primer dan Pneumotoraks
  • Spontan Sekunder. Pneumotoraks Spontan Primer biasanya disebabkan oleh pecahnya bleb pada paru (sering terjadi pada pria muda yang tinggi kurus dan pada Marfan syndrome), sedangkan Pneumotoraks Spontan Sekunder seringkali terjadi akibat Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK).
  • Luka Tusuk Dada Barotrauma Pada Paru

Pneumotoraks dibagi menjadi Tension Pneumothorax dan non-tension pneumathorax.Tension. Pneumothorax merupakan medical emergency dimana akumulasi udara dalam rongga pleura akan bertambah setiap kali bernapas. Peningkatan tekanan intratoraks mengakibatkan bergesernya organ mediastinum secara masif ke arah berlawanan dari sisi paru yang mengalami tekanan.Non-tension pneumothorax tidak seberat Tension pnemothorax karena akumulasi udara tidak makin bertambah sehingga tekanan terhadap organ didalam rongga dada juga tidak meningkat.Akumulasi darah dalam rongga toraks (hemotoraks) dapat menimbulkan masalah yang mengakibatkan terjadinya hemopneumotoraks.

Tanda dan Gejala.Sesak napas tiba-tiba, napas pendek, batuk kering, sianosis, dan nyeri dada, punggung dan lengan merupakan gejala utama.Pada luka tembus dada, bunyi aliran udara terdengar pada area luka tembus. Yang selanjutnya disebut “sucking” chest wound (luka dada menghisap). Jika tidak ditangani maka hipoksia mengakibatkan kehilangan kesadaran dan koma.Selanjutnya pergeseran mediastinum ke arah berlawanan dari area cedera dapat menyebabkan penyumbatan aliran vena kava superior dan inferior yang dapat mengurangi cardiac preload dan menurunkan cardiac output.Jika ini tak ditangani, pneumotoraks makin berat dapat menyebabkan kematian dalam beberapa menit.Peumotoraks spontan seringkali dilaporkan terjadi pada orang-orang muda dengan perawakan tinggi.Terutama pada laki-laki.Sebabnya tidak diketahui, diduga terdapatnya abnormlitas pada jaringan ikat (connective tissue).Beberapa pneumotoraks spontan disebabkan pecahnya “blebs”, semacam struktur gelembung pada permukaan paru yang pecah menyebabkan udara masuk ke dalam kavum pleura. Umumnya didahului oleh peningkatan tekanan intrapulmoner seperti: batuk keras, meniup alat-alat musik, bersin, mengejan, dan lain-lain.

B. Saran

Mengingat betapa berperannya perawat dalan menangani kasus pneumothoraks , maka dengan adanya makalah ini diharapkan pembaca mampu menerapkan isi dari masalah. Penulis menyadari makalah ini belumlah mencapai kesempurnaan maka disarankan kepada pembaca untuk membaca referensi lain mengenai pneumothoraks.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Kumala, Poppy et all. Kamus Saku Kedokteran Dorland. Edisi 25. Jakarta : EGC,1998.

Muttaqin, Arif.2008.AsuhanKeperawatan pada klien dangan gangguan system pernapasan. Jakarta:Salemba Medika

Slamet Suyono, (2001). Ilmu Penyakit Dalam. Jilid II, FKUL : Jakarta

Sudoyo, Aru W. 2006. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam jilid II Ed. IV. Jakarta: Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia

Prosedur Kerja Pemasangan Kateter Tetap Pada Wanita

1. Pengertian
Memasukkan selang karet atau plastik melalui uretra dan kedalam kandung kemih

2. Tujuan
a. Menghilangkan distensi kandung kemih
b. Mendapatkan spesimen urine
c. Mengkaji jumlah residu urine, jika kandung kemih tidak mampu sepenuhnya dikosongkan

3. Persiapan
a. Perasiapan Pasien
1) Mengucapkan salam terapeutik
2) Memperkenalkan diri
3) Menjelaskan pada klien dan keluarga tentang prosedur dan tujuan tindakan yang akan dilaksanakan.
4) Penjelasan yang disampaikan dimengerti klien/keluarganya
5) Selama komunikasi digunakan bahasa yang jelas, sistematis serta tidak mengancam.
6) Klien/keluarga diberi kesempatan bertanya untuk klarifikasi
7) Privacy klien selama komunikasi dihargai.
8) Memperlihatkan kesabaran , penuh empati, sopan, dan perhatian serta respek selama berkomunikasi dan melakukan tindakan
9) Membuat kontrak (waktu, tempat dan tindakan yang akan dilakukan)

b. Persiapan Alat
1) Bak instrumen berisi :
a) Poly kateter sesuai ukuran 1 buah
b) Urine bag steril 1 buah
c) Pinset anatomi 2 buah
d) Duk steril
e) Kassa steril yang diberi jelly

2) Sarung tangan steril
3) Kapas sublimat dalam kom tertutup
4) Perlak dan pengalasnya 1 buah
5) sampiran
6) Cairan aquades atau Nacl
7) Plester
8) Gunting verband
9) Bengkok 1 buah
10) Korentang pada tempatnya

4. Prosedur
a. Pasien diberi penjelasan tentang prosedur yang akan dilakukan, kemudian alat-alat didekatkan ke pasien
b. Pasang sampiran
c. Cuci tangan
d. Pasang pengalas/perlak dibawah bokong klien
e. Pakaian bagian bawah klien dikeataskan/dilepas, dengan posisi klien lithotomi (kaki ditekuk dan Kaki sedikit dibuka). Bengkok diletakkan didekat bokong klien
f. Buka bak instrumen, pakai sarung tangan steril, pasang duk steril, lalu bersihkan alat genitalia dengan kapas sublimat dengan menggunakan pinset.
g. Bersihkan genitalia dengan cara : dengan tangan nondominan perawat membuka vulva kemudian tangan kanan memegang pinset dan mengambil satu buah kapas sublimat. Selanjutnya bersihkan labia mayora dari atas kebawah dimulai dari sebelah kiri lalu kanan, kapas dibuang dalam nierbekken, kemudian bersihkan labia minora, klitoris, dan anus. Letakkan pinset pada nierbekken
h. Ambil kateter kemudian olesi dengan jelly. Masukkan kateter kedalam uretra kira-kira 10 cm secara perlahan-lahan dengan menggunakan pinset sampai urine keluar. Masukkan Cairan Nacl/aquades 20-30 cc atau sesuai ukuran yang tertulis. Tarik sedikit kateter. Apabila pada saat ditarik kateter terasa tertahan berarti kateter sudah masuk pada kandung kemih
i. Lepaskan duk, sambungkan kateter dengan urine bag. Lalu ikat disisi tempat tidur
j. Fiksasi kateter pada bagian sisi dalam paha klien
k. Pasien dirapihkan kembali
l. Alat dirapihkan kembali
m. Mencuci tangan
n. Melaksanakan dokumentasi :

 
 
5. Perhatian
1) Catat tindakan yang dilakukan dan hasil serta respon klien pada lembar catatan klien
2) Catat tgl dan jam melakukan tindakan dan nama perawat yang melakukan dan tanda tangan/paraf pada lembar catatan klien.
Video

cara pemasangan kateter pada pria

Prosedur Kerja Pemasangan Kateter Tetap Pada Pria

 
1. Pengertian
Memasukkan selang karet atau plastik melalui uretra dan kedalam kandung kemih

2. Tujuan
a. Menghilangkan distensi kandung kemih
b. Mendapatkan spesimen urine
c. Mengkaji jumlah residu urine, jika kandung kemih tidak mampu sepenuhnya dikosongkan

3. Persiapan

a. Persiapan Pasien
1) Mengucapkan salam terapeutik
2) Memperkenalkan diri
3) Menjelaskan pada klien dan keluarga tentang prosedur dan tujuan tindakan yang akan dilaksanakan.
4) Penjelasan yang disampaikan dimengerti klien/keluarganya
5) Selama komunikasi digunakan bahasa yang jelas, sistematis serta tidak mengancam.
6) Klien/keluarga diberi kesempatan bertanya untuk klarifikasi
7) Privacy klien selama komunikasi dihargai.
8) Memperlihatkan kesabaran , penuh empati, sopan, dan perhatian serta respek selama berkomunikasi dan melakukan tindakan
9) Membuat kontrak (waktu, tempat dan tindakan yang akan dilakukan)

b. Persiapan Alat
1) Bak instrumen berisi :
a) Poly kateter sesuai ukuran 1 buah
b) Urine bag steril 1 buah
c) Pinset anatomi 2 buah
d) Duk steril
e) Kassa steril yang diberi jelly

2) Sarung tangan steril
3) Kapas sublimat dalam kom tertutup

4) Perlak dan pengalasnya 1 buah
5) Sampiran
6) Cairan aquades atau Nacl
7) Plester
8) Gunting verband
9) Bengkok 1 buah
10) Korentang pada tempatnya

4. Prosedur

a. Pasien diberi penjelasan tentang prosedur yang akan dilakukan, kemudian alat-alat didekatkan ke pasien
b. Pasang sampiran
c. Cuci tangan
d. Pasang pengalas/perlak dibawah bokong klien
e. Pakaian bagian bawah klien dikeataskan/dilepas, dengan posisi klien terlentang. Kaki sedikit dibuka. Bengkok diletakkan didekat bokong klien
f. Buka bak instrumen, pakai sarung tangan steril, pasang duk steril, lalu bersihkan alat genitalia dengan kapas sublimat dengan menggunakan pinset.
g. Bersihkan genitalia dengan cara : Penis dipegang dengan tangan non dominan penis dibersihkan dengan menggunakan kapas sublimat oleh tangan dominan dengan gerakan memutar dari meatus keluar. Tindakan bisa dilakukan beberapa kali hingga bersih. Letakkan pinset dalam bengkok
h. Ambil kateter kemudian olesi dengan jelly. Masukkan kateter kedalam uretra kira-kira 10 cm secara perlahan-lahan dengan menggunakan pinset sampai urine keluar. Masukkan Cairan Nacl/aquades 20-30 cc atau sesuai ukuran yang tertulis. Tarik sedikit kateter. Apabila pada saat ditarik kateter terasa tertahan berarti kateter sudah masuk pada kandung kemih

i. Lepaskan duk, sambungkan kateter dengan urine bag. Lalu ikat disisi tempat tidur
j. Fiksasi kateter
k. Lepaskan sarung
l. Pasien dirapihkan kembali
m. Alat dirapihkan kembali
n. Mencuci tangan
o. Melaksanakan dokumentasi :

 
5. Perhatian
1) Catat tindakan yang dilakukan dan hasil serta respon klien pada lembar catatan klien
2) Catat tgl dan jam melakukan tindakan dan nama perawat yang melakukan dan tanda tangan/paraf pada lembar catatan klien

Cara Mengukur Tekanan Darah Menggunakan Tensi Meter Jarum

Tensimeter jarum
 

Cara Mengukur Tekanan Darah Menggunakan Tensi Meter Jarum~Hipertensi merupakan salah satu penyakit yang jamak ada disekitar kita. Penyakit ini ditengarai disebabkanoleh adanya gaya hidup yang tidak sehat, mulai dari pola makan, tidak pernah melakukan olah raga, hingga manajemen masalah yang kurang tepat sehingga berdampak munculnya penyakit darah tinggi atau hipertensi ini. Agar tidak terjadi akibat fatal dari penyakit ini, perlu tindakan pencegahan dan pengontrolan terhadap tekanan darah. Salah satunya adalah dengan mengetahu tekanan darah itu sendiri. Cara yang paling mudah adalah dengan menggunakan alat ukur yang disebut tensimeter. Tidak ada salahnya sebagai masyarakat awam atau non medik, kita memiliki tensi meter dirumah sebagai alat standar kesehatan yang ada dirumah kita, apakah itu tensimeter digital, tensimeter air raksa atau tensimeter jarum. Namun seperti halnya saya ketika baru pertama kali menggunakan tensi meter jarum kebingungan, bagaimana cara mengetahui angka Sistole dan Diastole yang menunjukkan tingkat tekanan darah kita. Kali ini saya akan bercerita bagaimana Cara Mengukur Tekanan Darah Menggunakan Tensi Meter Jarum sebagaimana yang telah diajarkan oleh kakak saya yang seorang bidan.

Stetoskop

Pertama-tama kenakan sabuk ukur di pangkal lengan kiri yang akan diukur, dan kunci.Kemudian, jangan lupa, tutup katup udara dari pompa tensimeter tersebut dengan mengencangkan sekrup yang ada pada tensimeter. Setelah itu ambil stetoskop yang akan kita gunakan untuk mendengar denyut nadi yang akan diukur. Ingat ! Jangan terbalik meletakkan pada telinga, karena jika terbalik, kita justru tidak bisa mendengar apa-apa ! indikasinya cukup dengan mengetuk-ngetuk ujung stetoskop yang nantinya akan kita tempelkan pada urat nadi yang akan diukur, Jika kedengaran ribut kresek-kresek atau dung-dung-dung ketika diketuk-ketuk, artinya stetoskop sudah terpasang dengan benar ditelinga kita. Oh ya, alat dengar yang ada diujung stetoskop dapat didengar bolak-balik dikedua sisinya, tapi pada saat bersamaan hanya satu sisi yang bisa didengar, ada penyetelannya apakah mau mendengar dibagian punggung stetoskop atau tidak, untuk mengubah posisi dengar ini cukup dengan memutar-mutar kepala stetoskop tersebut.
Setelah sabuk ukur terpasang, kemudian katup udara telah terkunci, stetoskop telah dipasang ditelinga dengan benar, lalu letakkan ujung dengar stetoskop pada posisi nadi yang akan diukur biasanya di panggal lengan itu sendiri atau dipergelangan tangan, dan mulailah memompa udara. Perkirakan posisi jarum pada posisi diatas dari angka pengukuran sang “pasien” yang  biasa, artinya, jika tensi sang “pasien” biasanya Sistole 110 maka posisi jarum bergerak cukup hingga 150 saja, setelah itu pelan-pelan buka katup udara sambil mendengar dengan seksama suara di stetoskop. Oh ya, tangan kanan membuka katup udara, tangan kiri memegang ujung stetoskop pada posisi urat nadi. Buka sedikit demi sedikit katup udaranya, hingga terdengar bunyi detakan yang pertama. Angka yang ditunjukkan jarum ketika terdengar bunyi detakan pertama adalah Sistole atau angka yang diatas, lalu terus dengarkan stetoskop hingga suara denyutannya hilang, ketika denyutan tersebut hilang, maka angka yang ditunjukkan jarum adalah Diastole atau angka yang dibawah. Jadi jika Sistole 110 dan Diastole adalah 90 maka tensi hasil ukur adalah 110/90. Nah mudah bukan ? Tidak perlu datang ke paramedik untuk mengetahui tekanan darah kita sendiri. Dengan sering melakukan kita akan mudah mengukur tensi kita sendiri sehingga kita bisa mengontrol pola makan, pola istirahat dan sebagainya untuk mengontrol tekanan darah kita. Semoga bermanfaat~Semilir hati

Video

cara mengukur tensi darah